Perempuan Dalam Perspektif Orang Sunda Purba

BUDAYA3 Dilihat
banner 468x60

Orang Sunda memahami bahwa bumi itu Rahim, semesta itu perempuan dan sang pengayom itu bernama Dewi sari Pohaci (Dewi Sri).

Perempuan dalam kultur Sunda adalah sang energi, rahimnya mampu pencipta, kreativitas adalah nafasnya, kasih sayangnya menumbuhkan, keterampilannya menganyam, menenun, memasak, membuat keluarganya tumbuh menjadi kuat.

banner 336x280

Kenapa Yoni (simbol perempuan) menjadi lambang yang sangat penting bagi masyarakat Sunda Purba?

Apakah karena manusia yang belum mengenal agama itu bersifat mesum?

Bukan itu, tapi orang Sunda adalah observer. Mereka mengamati fenomena alam, perempuan bisa melahirkan, laki-laki tidak bisa. Oleh karena itu laki-laki Sunda memiliki pemahaman: berilah benih, perempuan akan memberimu anak. Berilah kapas, perempuan akan memberimu kain dan pakaian, berilah hasil ladang, perempuan akan memberimu makanan enak di meja makan dan menyimpannya dalam lumbung-lumbung sehingga kamu tidak akan bertemu paceklik.

Apakah orang Sunda purba tidak punya agama? Anda salah besar, merekalah inisitor ide spiritual, bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari manusia, ada sesuatu yang tidak tampak tapi maha dahsyat.

Signature: JP++9Fz6rQKhvyuUFFTH3E+lBREvqHg8t4AZbfL9hh4mXBC/kSqln03+MIUGUeAzvwqwhy7/ROUAspSEkd2gXJXj/NFVH4O/ZTQWCLXCVAxnF3fRgCTxVsUW5PQTDuNCrtCk3M9Sz3sghsWdbWMyNmxeSVZQjPqZelMPvEqK43gfV2oxXyYjPvsAnoo/fpsu+l9owBKJOvqpuff9ENJIlSCTPmk25smKHhJ7Ykf2do28jAmIUoPG+fEphC5LRYDV57ir+i7dyRqJboKz2nPrtJgDExGYR9A3lf7Zt2CNXlhZ/A+1p6D5plGb2COTXheg

Terbukti dari gerakan tanah, letusan gunung, gempa, tsunami, banjir air maupun banjir lahar. Kawah candradimuka menganga dimana-mana, momen mematikan namun kemudian abunya menghidupkan generasi baru. Kiamat bagi orang Sunda purba adalah sementara, kamu yang tidak mati akan lebih kuat, menjadi saksi, sang “testimony”, bahwa dari mereka yang mati akan lahir lagi menjadi sesuatu yang baru, kecambah dan tunas-tunas lebih baik, lebih kuat, lebih hebat.

Dalam buku sejarah Sapiens yang ditulis Yuval Noah Harari, disebut evolusi manusia terjadi karena dalam suatu masa, ada satu perempuan yang “memutuskan” untuk “berevolusi” menjadi manusia. Itulah perempuan, secara insting mereka tidak mau berhenti di tempat, kemajuan dan perubahan ada dalam DNA mereka. Apa yang ditulis Yuval, sangat merefleksikan spiritual Sunda, perempuanlah sang inisiator. Yuval sendiri lahir di negara yang melahirkan sistem kepercayaan dimana perempuan justru memiliki salah dan dosa temurun yang harus ditanggung seluruh jagad. Dan sejak agama-agama itu lahir, tiba-tiba saja posisi perempuan jadi lemah, makhluk binal banyak salah.

Sekarang situasi berubah, para ahli sejarah, arkeologis, geologist tak lagi terpaku pada dogma bahwa manusia berperadaban dan berbudaya baru eksis 10.000 tahun lalu, mereka paham, kecerdasan yang ada pada 10.000 tahun lalu adalah perjalanan panjang dari perjuangan evolusi otak selama jutaan tahun sebelumnya.

Motornya: Otak perempuan. Kehidupan lelaki Sunda purba, berputar pada pemujaan sang perempuan, karena sebelum para ahli barat paham, mereka lebih dahulu paham, bahwa dunia akan stagnan tanpa kiprah perempuan yang memimpin hidup mereka. Prinsip ini juga menyebar di seluruh Kawasan Sunda (termasuk Pulau -pulau sekitar) bahwa perempuan adalah segala, maka lelaki yang memiliki kemampuan sehebat kaum perempuan dalam berkarya tak lagi disebut tukang tapi menjadi punya gelar: EMPU, karena ia punya kemampuan seperti perempuan: mencipta, kreatif, berenergi, menumbuhkan, mengayomi, menyayangi. Aku adalah anak tanah perempuan, “we master the evolution”!

Selamat Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2025. Rieska Wulandari – Jurnalis Lepas. Penulis Buku Indonesia Unexplored Sumber: Prof. Jakob Sumardjo Yuval Noah Harari.Foto diambil di Bandung, 20 Des 2006.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *